Ketika Kesederhanaan Mampu Mewujudkan Kebahagiaan Tersendiri Bagi Pemiliknya

Ketika Kesederhanaan Mampu Mewujudkan Kebahagiaan Tersendiri Bagi Pemiliknya

Menjadi sederhana adalah pilihan. Berkontribusi serta mampu bersosialisasi dalam kehidupan merupakan hakikat manusia secara harfiah. Beberapa orang akan berbeda mengenai pola pikir serta cara pandang, karena dipengaruhi oleh banyak hal. Untuk beberapa orang kesederhanaan adalah pilihan. Ia mampu menghadirkan kebahagiaan tersendiri dihati pemiliknya.

Sama halnya dengan program asuransi wakaf Allianz, pengaplikasian yang mudah dan tidak ribet serta keberkahan manfaat didalamnya. Meski tergolong baru, nyatanya asuransi ini telah banyak diminati. Karena dinilai cukup banyak memberikan manfaat bagi penggunanya. Terlebih, nilai plus yang ditawarkan membuat produk ini makin melejit.

Berbicara mengenai kesederhanaan, ada salah satu profil wanita mengagumkan dari Purwodadi,  Namanya, Ibu Mardiyah. Namun kerap disapa mbah Mar oleh cucu-cucunya. Keramahan serta keceriaan yang terpancar di usianya yang hampir setengah abad, mampu memberikan efek positif bagi orang terdekatnya.

Meski kecanggihan jaman semakin menggerus nilai-nilai kesederhanaan. Agaknya tidak dengan wanita paruh baya ini. Ia tetap melakoni kehidupannya secara apa adanya serta bekerja keras. Ibu dua anak yang tinggal di pedesaan ini mampu melewati kehidupan yang terkadang tak berpihak padanya.

Memiliki label orang desa tak membuatnya minder. Justru membuatnya yakin tidak ada perbedaan antara desa dengan kota. Menggeluti dunia pertanian sebagai warisan orang tua terus ia jalankan. Sikap serta perilakunya yang santun juga membuat lingkungan sekitar menyukainya. Baginya hidup rukun dan damai dengan orang-orang sekitar sangatlah penting.

Beberapa cerita yang beliau utarakan mengenai kehidupan sedikit banyak mengena  dalam hati. Ia turut mengemukakan jika keinginannya untuk dapat mengunjungi rumah Allah. Mbah Mar juga termasuk muslim yang taat. Meski demikian, ia memiliki toleransi tinggi kepada orang lain.

Impiannya itu tergambar jelas dalam bulir bening yang mulai memenuhi bola matanya. Kerinduan terhadap rumah Allah ia simpan baik-baik, yang semakin hari kian membesar. Memberikan keyakinan jika suatu saat ia akan kesana. Kesibukannya sebagai seorang petani tak lantas membuatnya berleha-leha. Ia juga memiliki beberapa ekor domba yang digembala sendiri.

Karena di daerahnya masih banyak terdapat hutan serta padang rumput, hal ini turut menjadi alasan mengapa ia menggembala sendiri domba-domba tersebut. Bersama sang putri, biasanya mereka akan mulai beredar pukul dua siang. Dan akan pulang pukul empat sore. Katanya, kegiatan ini mampu meredakan stress akibat kelelahan bekerja juga kelelahan psikis.

Sebelumnya, beliau ini juga yang sering mengunjungi serta merawat orang tuanya. Meski telah memiliki rumah sendiri dan jauh dari orang tua, namun ia tetap rajin berkunjung. Ia juga sangat perhatian kepada ibu bapaknya. Bagi mbah Mar, kedua orang tua adalah bagian terpenting dalam hidupnya. Terlebih sang suami serta anak-anak mendukung perbuatan mulia beliau.

Ia juga memelihara ternak ayam, sebagai konsumsi sendiri maupun dijual saat keperluan mendadak. Mbah Mar juga pandai memasak, ia piawai dalam menyajikan masakan sederhana dengan rasa bintang lima. Agaknya, mutiara tersembunyi ada dalam dirinya.

Mengenai kecanggihan teknologi, ia tak terlalu ambil pusing. Di era milenial yang memungkinkan penggunaanya masuk kedalam dunia maya serta kemudahan yang melenakan. Ia memilih untuk tetap menggunakan gawai jadul sebagai alat komunikasi. Meski kuno, namun tak lekang oleh waktu, katanya.

Baginya sederhana adalah pilihan, ia meyakini siapa menanam maka ia akan menuai. Jadi jika kita dapat menanam dan menuai hal baik kenapa milih yang buruk. Semoga orang-orang semacam ini tak punah tergerus jaman. Sehingga akan membuat dunia menjadi lebih damai dan indah.